Saturday, September 21, 2019

STRATEGI MODERNIS – RELIGIUS


( Studi Analisis Tentang Filsafat Ilahiyah dan Etika Menurut Al-Ghazali dalam Konteks Strategi Memajukan Sebuah Pendidikan di Madrasah)

Oleh: Nurul Winayanti, S.Pd.I
Sebelum pembahasan tentang judul kita uraikan, penulis tertarik mengaitkan penemuan Al-Ghazali tentang konsep Filsafat Ilahiyah dan Etika dalam konteks strategi memajukan pendidikan di madrasah. Salah satu pendapat al-Ghazali terkenal di tengah masyarakat yang berjudul Al Munqiz min Ad Dhalal Al-Ghazali berpendapat bahwa:
”ilmu hati merupakan konsekuensi logis bagi ilmu-ilmu manusia, karena ada dua alam, yakni alam lahir dan alam bathin. Jika ilmu-ilmu (pengetahuan) menguasai ilmu lahir dengan analisa dan keterangan, maka harus ada ilmu khusus untuk menjelaskan ilmu bathin. Pengetahuan-pengetahuan itu sendiri ada dua, yaitu inderawi dan sufi (lahir dan bathin). Sarana untuk mengenal pengetahuan-pengetahuan lahir adalah panca indera, sedang metoda untuk mencapai pengetahuan-pengetahuan bathin harus kembali kepada mereka (kaum sufi) yang mengatakan bahwa kesederhanaan, zuhud, dan amal-amal praktis seluruhnya adalah jalan untuk mempersepsi berbagai realitas yang tersembunyi dan ilham yang melampaui penglihatan dan pendengaran. Maka ma’rifat adalah tujuan yang luhur bagi tasawuf. Al-Ghazali menentang kesatuan antara manusia dengan Tuhan (teori Al Ijtihad) karena bertentangan dengan ajaran agama.”[1]
Lalu apa hubungannya dengan pendapat Al-Ghazali tentang ilmu dengan konteks judul di atas?
Penulis menulis judul di atas mencoba memberi gagasan di era sekarang yang sering dibilang era modern dan prof Iik juga sering menyebutnya menjelang revolusi ke industri 4.0. Era ini merupakan banyak tantangan bagi lembaga pendidikan lebih khusus bagi pendidikan di madrasah. Irois memang, tapi ini adalah sebuah keniscayaan zaman yang mau tidak mau harus dihadapi.
Sayyidina ali pernah berkata : “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.[2] Ini memberi isyarat kepada kita bahwa perkembangan zaman itu mutlak terjadi dan persoalan-persoalan baru yang belum ada pada zaman sebelumnya juga bermunculan. Persoalan-persoalan tentunya bukan hanya sebatas mendidik anak saja, akan tetapi lebih jauh dari itu.
Tentunya persoalan-persoalan penyelenggaraan pendidikan dan sistemnya mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Dari sini penulis ingin menguraikan benang merah antara pandangan Al-Ghazali tentang ilmu inderawi dan bathin.  Bagaimana mengimplementasikannya dalam konteks strategi untuk memajukan pendidikan?
Penulis memberi judul Modernis-Religius adalah sebuah konsep strategi yang penulis tawarkan dalam memajukan sebuah pendidikan. Lalu apa maksud judul tersebut? Secara sederhana penulis menginterpretasikan judul tersebut adalah sebuah konsep pengembangan lembaga pendidikan yang berorientasi pada modernitas (kekinian) dan tidak meninggalkan konsep-konsep religiusitas (ilahiyah). Konsep tersebut dalam upaya menjembatani peserta didik agar menjadi manusia-manusia yang sesuai dengan zamannya dan tidak kering otaknya (maksudnya kering dari sifat-sifat ilahiyah) sehingga dalam tataran praktis akan menjadi manusia-manusia yang luwes dan tidak ketinggalan zaman.
Melalui strategi modernis-religius diharapan peserta didik memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah manusia-manusia yang tidak lepas dari modernitas sehingga ada ghirrah untuk membekali diri dengan skill sesuai dengan kebutuhan dan membentengi dirinya dengan sifat-sifat ilahiyah yang mulia seperti meniru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, pemaaf, dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, jujur, sabar, ikhlas dan sebagainya.
Jadi dalam praktiknya, perkembagan ilmu dan teknologi akan diimbagi dengan sifat-sifat mulia yang bersumber dari ajaran ilahi. Yang berkaitan dengan perkembangan ilmu lahir (dlahir) digarap ala dlahir, sedangkan yang berhubungan dengan ilmu bathin dilaksanakan ala ilmu bathin.
Model strategi tersebut apakah bisa diterapkan?
Saya rasa sangat bisa sekali untuk menerapkan strategi tersebut, tinggal bagaimana kemauan penyelenggara pendidikan dan stakeholder dalam mengimplementasikannya. Mungkin saja sebagian besar sudah menerapkan model seperti itu, akan tetapi tingkat keseriusan dan berbagai kepentingan elektoral yang bisa jadi mengganggu keberhasilan konsep tersebut.
Sebagai salah satu contoh disekitar kita adalah pondok pesantren Gontor. Siapa yang tidak mengatakan bahwa gontor itu maju? Pasti kalau ditanya akan menjawab kalau Gontor adalah representasi dari lembaga pendidikan yang “maju”. Penulis berani menulis karena melihat sendiri beberapa hari dalam studi banding kami. Betapa dahsyatnya perkawinan antara modernitas dengan religiusitas diterapkan pada lembaga pendidikan. Disitu menghasilkan peserta didik yang cerdas, disiplin, bertanggung jawab, gotong royong, jujur, dan berkarakter kuat.
Kesimpulannya adalah di zaman modern ini tren orang tua/wali peserta didik akan cenderung lebih tertarik menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang berorientasi pada pemerhatian terhadap akhlak peserta didiknya. Mengingat seperti yang kita ketahui di era modern apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan agama yang cukup akan menjadikan manusia-manusia yang kering. Artinya pertimbangan-pertimbangan orang tua agar anak-anaknya menjadi anak yang cerdas dan beradab itu akan lebih ada ketertarikannya daripada sekedar cerdas tanpa adab/akhlak.



[1] Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dhalal, terj.Abdullah bin Nuh, ( Jakarta: Tinta Mas, 1960), hal. 205
[2] Ahmad Fahruddin, dalam https://www.kompasiana.com/kang_fahru/592cf43acc92736a09e7a327/mendidik-sesuai-zaman diunduh pada tanggal 8 Januari 2019
[3] Murtiningsih, Wahyu, 2012, Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah, Jogjakarta: IRCiSoD
[4] Soetriono & Rita Hanafie, 2017, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Solo: Andi Offset.

Read more

Friday, January 25, 2019

BAHAYA HOAX; MENGENALI DAN MEMBENTENGI GENERASI MILLENIAL DARI PENGARUH HOAX


Oleh : Nurul Winayanti, S.Pd.I

Hoax menjadi perbincangan hangat di media massa maupun media sosial belakangan ini karena dianggap meresahkan publik dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang biasanya digunakan dalam medos, misalnya: facebook, tweeter, blog, dan lain-lain.
Menurut Wikipeda, Pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya.
Menurut Dr. H. Fuad Thohari, MA (2016) sedikitnya ada empat macam berita bohong atau hoax, diantaranya adalah: Pertama, mitos atau cerita berlatar masa lampau yang boleh jadi salah, tetapi dianggap benar karena diceritakan secara turun-temurun. Kedua, glorifikasi dan demonisasi. Glorifikasi adalah melebih-lebihkan sesuatu agar tampak hebat, mulia, dan sempurna. Sebaliknya, demonisasi adalah mempersepsikan sesuatu seburuk mungkin seolah tanpa ada kebaikannya sedikit pun. Ketiga, kabar bohong atau informasi yang diada-adakan atau sama sekali tidak mengandung kebenaran. Keempat, info sesat, yaitu informasi yang faktanya dicampuradukkan, dipelintir, dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi seolah-olah benar. Di dunia komunikasi, ada istilah spin doctor untuk menyebut ahli pemelintiran komunikasi.
Karena hoax adalah merupakan berita palsu atau bohong, bisa kita bayangkan begitu bahayanya dampak hoax terhadap tatanan masyarakat yang sebenarnya sudah lumayan baik ini. Kebohongan juga akan berdampak pada kesimpangsiuran berita, bahkan sampai bisa menjadikan provokasi dan pertikaian. Maka kita generasi yang masih eksis pada era gadget dan smartphone ini harus bisa menelaah terlebih dahulu dalam menerima informasi-informasi dari manapun. Sehingga akurasi berita atau informasi bisa kita terima dan tidak akan mudah terprovokasi.
Adapun pembahasan ini penulis batasi pada kajian tentang bagaimana generasi milenial terhadap hoax dan solusi untuk meminimalisir hoax pada generasi milenial.

Generasi Millenial Rentan Terhadap Hoax
Generasi millenial adalah generasi yang lahir pada era tahun 1980-an hingga 2000-an merupakan generasi yang dinilai paling rentan ‘tertelan’ oleh berita bohong atau hoax. Semuanya terjadi karena hidup mereka banyak dihabiskan pada gadget dan seakan akan mereka tidak pernah lepas dengan dunia maya. Ini berimplikasi pada penerimaan mereka terhadap informasi-informasi yang mudah diakses melalui gadget mereka.
Tantangan terberat yang harus dihadapi generasi milenial adalah bertebarannya informasi bohong alias hoax. Informasi hoax, bila dibiarkan bisa memprovokasi dan mempergaduh suasana serta dapat merusak persatuan yang selama ini sudah dibangun dengan susah payah. Olehnya itu, sudah semestinya generasi milenial untuk memiliki komitmen memerangi hoax.
Bagi generasi milenial yang terlanjur mempergunakan gadget, tetapi di saat yang sama tidak diimbangi dengan kesiapan literasi media kritis untuk memilih dan menyikapi berita-berita yang objektif, risiko mereka terjerumus dalam provokasi dan informasi bohong tentu lebih besar. 
Sebuah berita hoax yang diproduksi, disirkulasikan dan kemudian diresirkulasikan melalui teknologi dan media yang konvergen, maka dalam tempo yang cepat tidak mustahil berubah menjadi "kebenaran" karena penyebarannya yang masif.
Booming informasi yang nyaris tidak terbatas di dunia maya membuat generasi milenial yang kritis sekali pun seringkali kesulitan memilah mana yang hoax dan mana pula yang bisa dipercaya.
Memang tidak mudah untuk menyaring antara berita hoax dan berita kredibel kalau tidak diimbangi penguasaan literasi yang bagus. Generasi kita yang suka serba instan harus mulai disadarkan tentang pentingnya membaca dan menggali dari berbagai referensi. Sehingga dalam penerimaan informasi apapun mereka dapat menelaah dengan seksama dan tidak cenderung reaktif terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.

Solusi untuk Meminimalisir Hoax
Kita semua menyadari bahwa kemajuan teknologi informasi, meluasnya penggunaan gadget atau smartphone dan kehadiran media jejaring facebook, twitter, IG, dan lainnya serta kemudahan berselancar di dunia maya tanpa batas memang penuh pesona, dan menjadi daya tarik tersendiri. 
Dengan kita memahami bahwa hal ini adalah konsekuensi dari perkembangan gaya hidup maka upaya untuk mencegah agar dampak perkembangan TI tidak kontra-produktif. Tentu tidak harus dilakukan hanya mengandalkan pendekatan yang sifatnya regulatif-punitif, seperti melakukan razia di berbagai wartel, mengeluarkan fatwa haram untuk facebook, twitter, IG, dan lainnya, atau sekedar melakukan pemblokiran, dan sejenisnya.
Dalam hal ini, adalah tugas kita bersama antara orang tua, madrasah, dan seluruh elemen masyarakat yang peduli untuk senantiasa membantu para pengguna gadget dan sejenis smartphone yang lain mengembangkan multiple literasi yang mereka perlukan untuk bernegosiasi dengan dunia digital. Artinya kita bisa turut andil dalam menyebarkan konten-konten positif sebagai bentuk counter terhadap hoax itu sendiri.
Menarik dan mengisolasi diri dari perkembangan teknologi jelas tidak mungkin dilakukan karena hal itu hanya akan membuat generasi menjadi gagap teknologi (gaptek) dan ketinggalan zaman. 
Namun, memfasilitasi persentuhan generasi milenial terlebih peserta didik pada satuan apapun dengan dunia digital, bagaimana pun tetap membutuhkan dukungan literasi media kritis sebagai koridor yang bisa memastikan bahwa mereka tidak akan salah arah hingga terjerumus menjadi korban dunia digital, yang tanpa disadari telah berubah menjadi lautan ganas yang mampu menelan siapa pun yang tak mempersiapkan diri dengan baik.
Pada kesimpulannya generasi sekarang memang perlu arahan, bimbingan, dan regulasi yang pasti, agar generasi milenial dan secara umum rakyat Indonesia untuk lebih cerdas dalam bermedsos, terutama menerima dan menyebarkan berita atau informasi dari sumber yang tidak jelas kredibilitasnya. Generasi milenial dan masyarakat secara umum perlu didorong untuk membiasakan diri melakukan klarifikasi terhadap semua berita atau informasi. Apalagi kalau informasi itu datangnya dari orang-orang fasiq, wajib klarifikasi dan uji telaah akurasi dan validitas berita.

Read more

Tuesday, August 28, 2018

HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN AL HABSYI KWITANG, GURU SPIRITUAL Ir. SOEKARNO

Setiap bulan Agustus, mendekati tanggal 17 sebagai hari kemerdekaan Indonesia seluruh warga masyarakat Indonesia mengibarkan bendera merah putih. orang yang pertama kali menyerukan hal itu adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang.
Sewaktu Ir. Soekarno bebas dari penjara Sukamiskin dijemput oleh sanak famili dan kawan karib, diantaranya adalah M. Husni Thamrin yang mengajak Bung Karno untuk tinggal di Batavia/Jakarta. Sewaktu tiba di Batavia Bung Karno diajak oleh Husni Thamrin menemui Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi di kampung Kwitang. Di sana Bung Karno tinggal selama 4 bulan dengan mendapat nasihat dan ikut pengajian Habib Ali baik di rumah maupun di Masjid Kwitang.
Suatu hari saat Bung Karno sedang ikut hadir pada pengajiannya Habib Ali di Masjid Kwitang M. Husni Thamrin datang untuk menjemputnya guna menghadiri pertemuan dengan masyarakat Batavia. Lalu Bung Karno meminta ijin kepada Habib Ali untuk menghadiri acara tersebut. Dan Habib Ali pun mempersilakannya. Dengan masih bersarung Bung Karno menghadiri pertemuan tersebut didampingi M. Husni Thamrin.
Itulah permulaan dekatnya Bung Karno dengan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 terjadilah peristiwa Rengas Dengklok. Dimana Bung Karno dan Bung Hatta serta lainnya diamankan oleh para pemuda di Rengas Dengklok Karawang. Haji Darip dari Klender salah satu yang ikut pada waktu itu sempat mengusulkan agar para tokoh ditempatkan di tempat yang layak, karena waktu itu mereka ditempatkan di pinggir kali. Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawan agar Bung Karno dan Bung Hatta ditempatkan di rumah yang layak dan akhirnya ditempatkan di rumah warga etnis Tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong.
Pada waktu itu ada perundingan antara Golongan Tua dan Golonga Muda dalam merumuskan dan menyusun teks Proklamasi yang berlangsung pada pukul 2 dini hari hingga pukul 4 menjelang waktu sahur. Teks Proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maida di Jl. Imam Bonjol. Setelah Sahur dan sesudah adzan Shubuh Bung Karno menyempatkan diri ke Kwitang dengan menyamar untuk menemui Habib Ali al-Habsyi guna memohon doa restu besok akan diadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Maka tak heran jika pembacaan teks proklamasi yang semula dijadwalkan pagi hari tertunda sampai jam 10. Dikarenakan Bung Karno sowan dulu ke kediaman Habib Ali guna meminta restu.
Hari Jum’at 17 Agustus 1945 M. bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H jam 10 siang dibacakan teks Proklamasi oleh Bung Karno sekaligus pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati.
Selang dua jam setelah dibacakan Proklamasi, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mengumumkan kepada Jamaah Sholat Jum’at di Masjid Kwitang Bahwa negara ini telah diproklamirkan kemerdekaannya, Habib Ali memerintahkan agar seluruh Umat Islam memasang bendera merah putih di rumah dan kampungnya masing masing. Habib Ali menegaskan agar apa yang di umumkannya disebarluaskan.
Kabar tentang pengumuman oleh Habib Ali Kwitang cepat menyebar dikalangan Masyarakat Jakarta khususnya para Ulama dan Habaib, Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar maklumat dari sang guru langsung membuat bendera Merah putih dan dipasang di atas menara Masjidnya, Habib Ali bin Husein Al-Attas pula tidak ketinggalan ikut memasang bendera merah putih di depan kediamannya, begitu pula Habib Salim bin Jindan memasang bendera di depan rumahnya, sampai sampai banyak masyarakat yang bertanya kepada Habib Salim
”Ya Habib Salim, ada apa dan kenapa bendera merah putih kau kibarkan di depan rumahmu ?”
Habib Salim menjawab, ”Apa kalian tak dengar kabar bahwa ini negeri telah merdeka, ketahuilah ini negeri telah merdeka dan lambang dari kemerdekaannya adalah bendera Merah putih ini, sudah kalian jangan banyak tanya lagi, lekas kalian buat bendera merah dan putih lalu pasang di rumah kalian, kalau ada yang tanya, bilang kalau negeri ini sudah Merdeka “
Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang Bendera Merah putih di rumahnya, Para Penjajah Jepang gusar dan masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia. Para tentara Jepang pun diturunkan untuk merampas bendera merah putih dari rumah-rumah penduduk khususnya di kediaman para tokoh, tidak ketinggalan penggeledahan dilakukan di rumah Habib Ali Kwitang. Habib Ali menolak sama sekali untuk menurunkannya hingga Habib Ali pun ditahan, begitu juga Guru Mansur , beliau diminta menurunkan bendera dari menara Masjid akan tetapi Guru Mansur mempertahankannya hingga di berondongkannya peluru ke menara Masjid,tapi Guru Mansur tetap Pada pendiriannya yang pada akhirnya Guru Mansur pun ikut ditahan oleh Jepang.
Pihak Jepang pun kewalahan karena makin banyaknya orang yang ditahan, mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan, lalu dengan sangat terpaksa pihak Jepang membebaskan masyarakat yang ditahan termasuk para Alim Ulama dan Habaib.
Pada akhirnya Jepang pun hanya bisa pasrah dengan Masyarakat Jakarta yang mendukung Kemerdekaan Negara Indonesia.
Maka tradisi pengibaran bendera merah putih di hari kemerdekaan Indonesia yang sampai sekarang terus dilakukan seluruh rakyat Indonesia, itu yang pertama kali menyerukan/ memerintahkan seorang ulama, seorang habaib dialah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi kwitang, Jakarta. guru spiritual Ir. Soekarno.
Teruntuk para habaib, ulama, kyai dan pejuang kemerdekaan, al fatihah.
tulisan diambil dari akun FB Akidah Santri
Read more

Saturday, August 25, 2018

Islam Kaset dan Kebisingannya; Pandangan Gus Dur soal Pengeras Suara di Masjid

Oleh KH Abdurrahman Wahid
SUARA bising yang keluar dari kaset biasanya dihubungkan dengan musik kaum remaja. Rock ataupun soul, iringan musiknya dianggap tidak bonafide kalau tidak ramai.
Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja. Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah dimengerti apa maksudnya.
Tetapi ternyata ada “persembahan” berirama yang menampilkan suara lantang. Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadah, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau.
Apalagi malam hari, lepas tengah malam di saat orang sedang tidur lelap. Dari tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat shalat subuh) hingga bacaan Qur'an dalam volume yang diatur setinggi mungkin. Barangkali saja agar lebih “terasa” akibatnya: kalau sudah tidak dapat terus tidur karena hiruk-pikuk itu, bukankah memang lebih baik bangun, mengambil air sembahyang dan langsung ke masjid?
Bacaan Al-Qur'an, tarhim, dan sederet pengumuman, muncul dari keinginan menginsafkan kaum Muslimin agar berperilaku keagamaan lebih baik. Bukankah shalat subuh adalah kewajiban? Bukankah kalau dibiarkan tidur orang lalu meninggalkan kewajiban? Bukankah meninggalkan kewajiban termasuk dosa? Bukankah membiarkan dosa berlangsung tanpa koreksi adalah dosa juga? Kalau memang suara lantang yang mengganggu tidur itu tidak dapat diterima sebagai seruan kebajikan (amar ma’ruf), bukankah minimal ia berfungsi mencegah kesalahan (nahi munkar)?
Sepintas lalu memang dapat diterima argumentasi skolastik seperti itu. Ia bertolak dari beberapa dasar yang sudah diterima sebagai kebenaran: kewajiban bersembahyang, kewajiban menegur kesalahan dan menyerukan kebaikan. Kalau ada yang berkeberatan, tentu orang itu tidak mengerti kebenaran agama.
Atau justru mungkin meragukan kebenaran Islam? Undang-undang negara tidak melarang. Perintah agama justru menjadi motifnya. Apa lagi yang harus dipersoalkan? Kebutuhan manusiawi bagaimanapun harus mengalah kepada kebenaran Ilahi. Padahal, mempersoalkan hal itu se benarnya juga menyangkut masalah agama sendiri.
Mengapa diganggu?
Nabi Muhammad mengatakan, kewajiban (agama) terhapus dari tiga macam manusia: mereka yang gila (hingga sembuh), mereka yang mabuk (hingga sadar), dan mereka yan tidur (hingga bangun). Selama ia masih tidur, seseorang tidak terbebani kewajiban apa pun. Allah sendiri telah menyedia kan “mekanisme” pengaturan bangun dan tidurnya manusia. dalam bentuk metabolisme badan kita sendiri.
Jadi tidak ada alasan untuk membangunkan orang yang sedang tidur agar bersembahyang – keculai ada sebab yang sah menurut agama, dikenal dengan nama ‘illat. Ada kiai yang menotok pintu tiap kamar di pesantrennya untuk membangunkan para santri. ‘Illat-nya: menumbuhkan keiasaan baik bangun pagi, selama mereka masih di bawah tanggung jawabnya. Istri membangunkan suaminya untuk hal yang sama, karena memang ada ‘illat: bukankah sang suami harus menjadi teladan anak-anak dan istrinya di lingkungan rumah tangganya sendiri?
Tetapi ‘illat tidak dapat dipukul rata. Harus ada penjagaan untuk mereka yang tidak terkena kewajiban: orang jompo yang memerlukan kepulasan tidur, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena wajib sembahyang. Tetapi mengapa mereka harus diganggu? Juga anak-anak yang belum akil baligh (atau tamyiz, sekitar umur tujuh delapan tahunan, menurut sebagian ahli fiqih mazhab Syafi’i).
Tidak bergunalah rasanya memperpanjang illustrasi seperti itu: akal sehat cukup sebagai landasan peninjauan kembali “kebijaksanaan” suara lantang di tengah malam — apalagi kalau didahului tarhim dan bacaan Al-Qur'an yang berkepanjangan. Apalagi, kalau teknologi seruan bersuara lantang di alam buta itu hanya menggunakan kaset! Sedang pengurus masjidnya sendiri tenteram tidur di rumah.
*) Tulisan ini pernah dimuat di TEMPO, 20 Februari 1982
Read more

Tuesday, August 14, 2018

KONTRIBUSI KYAI MA’RUF AMIN DALAM MENDIRIKAN BANK WAKAF MIKRO

Pertama di Era Jokowi ini ada Bank Wakaf Mikro yang masuk dalam pengawasan OJK. Apa itu Bank Wakaf Mikro? Lalu apa hubungannya dengan Kyai Ma’ruf Amin?
Berikut ulasannya son...
Bank Wakaf Mikro (BWM) adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat kecil yang tidak memiliki akses ke Bank dengan fasilitas pembiayaan yang dikelola dengan sistem syariah. BWM adalah salah satu program Komite Keuangan Syariah Nasional (KKSN).
Ngerti nggak son apa itu KKSN?
KKSN adalah Komite Keuangan Syariah Nasional yang dibentuk dan diketuai langsung oleh Presiden Jokowi atas inisiatif Kyai Ma’ruf Amin bersama para Ulama saat diundang ke Istana Presiden pada awal tahun 2015.
Kyai Ma’ruf bercerita, “Dulu saat pertemuan dengan Bapak Presiden Jokowi di Istana, para Ulama meminta pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi untuk memperhatikan sistem ekonomi syariah agar berkembang sampai menyentuh ke masyarakat bawah (masyarakat ekonomi lemah).”
Lalu Pak Presiden merespon positif dan berkata, “Kalo gitu saya dirikan Komite Keuangan Syariah Nasional (KKSN) yang diisi oleh Para Ulama dan saya minta Kyai Ma’ruf Amin sebagai ketuanya.”
“Owh tidak Pak Presiden, saya tidak mau. Saya ingin Bapak Presden langsung yang menjadi ketuanya. Saya ingin pengembangan keuangan syariah ini benar-benar serius untuk kemajuan ummat”. Jawab Kyai Ma’ruf Amin kepada Presiden Jokowi.
“Baiklah kalo begitu. Lalu apa yang menjadi aspirasi Para Kyai setelah Komite Keuangan Syariah Nasional ini terbentuk?” Bapak Jokowi menyanggupi dan meminta masukan kepada Para Ulama yg saat itu rombongan Para Ulama itu dipimpin oleh Kyai Ma’ruf Amin.
“Kami ingin memberantas rentenir yang menjerat ummat karena ketidak mampuan mereka mengakses Bank sehingga terpaksa meminjam dana dengan bunga yg berlipat-lipat. Itu tujuan utama kami Pak Presiden.” Jawab Kyai Ma’ruf
“Wah luar biasa cita-cita ini. Baiklah kalo gitu kira-kira program apa untuk memberdayakan ummat yang Pak Kyai maksud?” Timpa pak Jokowi ke Kyai Ma’ruf
“Komite Keuangan Syariah Nasional nanti bisa membuat program Bank Wakaf Mikro Pak Presiden...!!!” Kata Kyai Ma’ruf.
“Owh bagus”. Kata Pak Jokowi.
Pertama kali Presiden Joko Widodo meresmikan Bank Wakaf Mikro di Serang, Banten sebagai langkah kongkrit menindak lanjuti pertemuan dengan Ulama di Istana. Dalam acara peresmian tersebut, Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin turut mendampingi Jokowi.
Dalam pidato peresmiannya Pak Jokowi berharap melalui program Bank Wakaf Mikro, warga tidak harus terjebak lagi dengan pinjaman uang ke rentenir. Dia berharap usaha yang dijalani bisa berkembang.
Pak Jokowi berdialog langsung dengan ummat, para Ibu-ibu yang hadir.
Nah itulah cerita singkat kenapa ada Bank Wakaf Mikro dan apa hubungannya dengan Kyai Ma’ruf Amin.
BANK MUAMALAT DAN KYAI MA’RUF AMIN
Kalian tahu tidak pret kampret.. Kyai Ma’ruf Amin itu adalah inisiator berdirinya Bank Syariah Pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat. Dengan berdirinya Bank Muamalat itu kemudian berdiri lembaga Asuransi Syariah dan lembaga-lembaga keuangan syariah yang lain. Sampai saat ini Kyai Ma’ruf Amin masih duduk sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat.
Saat menerima ratusan jemaah Ustaz Yusuf Mansur di Muamalat Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/2/2018), Kyai Ma’ruf bercerita perihal pendirian Bank Syariah pertama yang kemudian dinamakan Bank Muamalat.
Kiai Haji Ma'ruf Amin tak kuasa menahan tangis, sempat sesenggukan sembari berlinang air mata berkata, “Proses pendirian Bank syariah pertama itu bagian dari perjuangan para ulama. Kelahiran Bank Muamalat adalah tonggak dari sistem keuangan syariah di Indonesia.”
“Bank Muamalat ini dibangun oleh umat dengan susah payah. Jadi bukan lahir dari para pemegang saham, oleh karena itu Bank Muamalat boleh sakit, seperti bank yang lain, tetapi tidak boleh mati," ujarnya dengan suara terisak.
Jadi penting sekali peran para Ulama termasuk Kyai Ma’ruf Amin dalam membangun ekonomi ummat ini.
Terus kalian yang sudah mencela Kyai Ma’ruf apa sumbangsihnya kpd ummat, bangsa dan negara ini?
Ya Allah saya menulis ini juga tak terasa menetes air mata, betapa besar cinta dan perhatiannya Kyai Ma’ruf Amin terhadap ummat. Beliau bukan hanya ceramah dan retorika tapi melakukan langkah nyata.
Bangga dan terharu Apa yang menjadi aspirasi dan perjuangan beliau bersama para Ulama dapat diwujudkan oleh Bapak Jokowi.
Jika Pak Karno Presiden pertama RI dikenal dengan sebutan “Penyambung Lidah Rakyat”, maka Pak Jokowi menurut saya pantas menyandang sebutan “Penyambung Lidah Ulama’”.
Sehat terus Kyai Ma’ruf Amin dan seluruh Para Ulama yang terus peduli bersama pemerintah membangun Bangsa dan Negara ini.
By. Fatur
dikutip dari akun FB. Eman Hermawan
Read more

Mereka Bertakbir tidak untuk Membesarkan Nama Allah, tapi Membesarkan Partainya

Berkata Sayyidil Al Habib Umar bin Hafidz :_
“Saat ini banyak muslim saling berperang dan saling menyerang satu sama lain dengan memekikkan takbir “Allahu Akbar” dan yang lain meneriakkan kalimat “Allahu Akbar”…
Padahal mereka sebenarnya tidak membesarkan Nama Allah/menganggungkan Allah..
Kalau memang mereka menganggungkan dan membesarkan Nama Nya pasti tangan mereka tak akan menyakiti atau menyerang muslim yang lain..
Hakikatnya mereka membesarkan akal mereka sendiri, membesarkan kepentingan dunia atau partai mereka sendiri ..
Kalau mereka benar2 membesarkan Nama Allah tak akan berbuat saling menyerang yang ini trhadap saudaranya yang lain..
Akan tetapi inilah fitnah yang sudah menimpa Umat ini…
Yaa Robb angkatlah kegelapan pada Ummat ini..
(Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz)
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh telah melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi. Demi Allah, saya tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang justru aku khawatirkan atas kalian adalah kalian bersaing terhadap kekayaan-kekayaan bumi.” (HR Bukhari 5946)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku mendahului kalian ke telaga. Lebar telaga itu sejauh antara Ailah ke Juhfah. Aku tidak khawatir bahwa kalian akan kembali musyrik sepeninggalku. Tetapi yang aku takutkan ialah kamu terpengaruh oleh dunia. Kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya kemudian berbunuh-bunuhan, dan akhirnya kalian musnah seperti kemusnahan umat sebelum kalian”. (HR Muslim 4249)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-loba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari 2924)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum Anshar, “sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoism, individualisme, orang yang mementingkan dirinya sendiri dan kelompok). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)” . (HR Bukhari 3509)
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) Al-Quran, sehingga ketika telah tampak kebaikannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari Al-Quran, membuangnya di belakang punggungnya dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”.
Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”.
Beliau menjawab, “Penuduhnya”.
(HR. Bukhâri)
dikutip dari akun FB Tribun Santri Nusantara
Read more

Wednesday, August 8, 2018

Benarkah Nabi Muhammad itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Beredar luas ceramah seorang Ustaz, yang tengah naik daun di kalangan anak muda, yang mengatakan bahwa maulid Nabi Muhammad itu seolah memeringati sesatnya Nabi Muhammad. Karena menurutnya, Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan sesat.
Ustaz yang pernah mengaku tidak lulus pesantren, dan pernah di penjara, lantas kemudian hijrah itu, berpendapat bahwa hal itu mengacu pada QS ad-Dhuha ayat 7, yang berbunyi:
‎وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Kata dhallan dalam ayat tersebut diartikan sebagai sesat oleh sang Ustaz. Dengan bertanya pada seorang Ustaz lain yang ada disampingnya, ayat tersebut diterjemahkan menjadi “ketika Allah mendapatimu dalam keadaan SESAT lalu Allah memberimu petunjuk”.
Terjemah semacam ini berbeda dengan terjemahan Kemenag:
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”
Menerjemahkan kata dhall dalam konteks surat ini sebagai sesat amat sangat berbahaya.
Bagaimana kalau kita lihat kitab Tafsir?
Tafsir at-Thabari mengutip penjelasan as-Suddi yang mengatakan:
وقال السدي في ذلك ما حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا مهران ، عن السدي ( { ووجدك ضالا } ) قال : كان على أمر قومه أربعين عاما . وقيل : عني بذلك : ووجدك في قوم ضلال فهداك .
Jadi kebingungan atau “kesesatan” itu berkenaan dg kaum jahiliah dimana Nabi tinggal bersama mereka selama 40 tahun sebelum mendapatkan wahyu.
Dengan demikian yang sesat itu mereka, bukan Nabi. Nabi dalam kondisi galau atau kebingungan menghadapi kaumnya itu. Sampai kemudian diberi petunjuk berupa wahyu oleh Allah. Kalau Nabi juga sesat saat itu, lha apa bedanya sama kaum jahiliyah? Bahaya banget kan penjelasan Ustaz yg terkenal dengan sebutan gapleh ini (gaul tapi soleh). Janganlah menyamakan kondisi pribadi sang ustaz sebelum dia hijrah dengan kondisi Muhammad bin Abdullah sebelum menerima wahyu.
Sayid Quthb dalam kitab tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan lebih jauh:
“Dulu kamu dibesarkan di lingkungan jahiliah dengan pandangan hidup mereka dan kepercayaan mereka yang kacau balau, beserta perilaku dan tata kehidupan yang menyimpang dari jalur kebenaran. Kemudian Allah memberikan petunjuk kepadamu dengan wahyu yang diturunkanNya kepadamu dan dengan manhaj yang kamu bisa berhubungan denganNya. Petunjuk dari kebingungan akan akidah dan kesesatan kelompok tersebut merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah.”
Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan:
‎وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ [إِنَّ] الْمُرَادَ بِهَذَا أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، ضَلَّ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ صَغِيرٌ، ثُمَّ رَجَعَ. وَقِيلَ: إِنَّهُ ضَلَّ وَهُوَ مَعَ عَمِّهِ فِي طَرِيقِ الشَّامِ، وَكَانَ رَاكِبًا نَاقَةً فِي اللَّيْلِ، فَجَاءَ إِبْلِيسُ يَعْدِلُ بِهَا عَنِ الطَّرِيقِ، فَجَاءَ جِبْرِيلُ، فَنَفَخَ إِبْلِيسَ نَفْخَةً ذَهَبَ مِنْهَا إِلَى الْحَبَشَةِ، ثُمَّ عَدَلَ بالراحلة إلى الطريق. حكاهما البغوي
“Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Nabi Saw. pernah tersesat di lereng-lereng pegunungan Mekah saat ia masih kecil, kemudian ia dapat pulang kembali ke rumahnya. Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya ia pernah tersesat bersama pamannya di tengah jalan menuju ke negeri Syam. Saat itu Nabi Saw. mengendarai unta di malam yang gelap, lalu datanglah iblis yang menyesatkannya dari jalur jalannya. Maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung meniup iblis hingga terpental jauh sampai ke negeri Habsyah. Kemudian Jibril meluruskan kembali kendaraan Nabi Saw. ke jalur yang dituju. Kedua kisah ini diriwayatkan dari al-Bahgawi.”
Ibn Katsir menerangkan kata dhall itu dalam konteks nyasar atau tersesat dalam perjalanan. Bukan tersesat dalam arti tauhid ataupun kesalahan lainnya.
Biar komplit saya kutip di bawah ini dari Imam Mawardi dalam kitab tafsirnya an-Nukat wal ‘Uyun:
‎{ وَوَجَدَكَ ضالاًّ فَهَدَى } فيه تسعة تأويلات:
‎أحدها: وجدك لا تعرف الحق فهداك إليه، قاله ابن عيسى.
‎الثاني: ووجدك ضالاً عن النبوة فهداك إليها، قاله الطبري.
‎الثالث: ووجد قومك في ضلال فهداك إلى إرشادهم، وهذا معنى قول السدي.
‎الرابع: ووجدك ضالاً عن الهجرة فهداك إليها.
‎الخامس: ووجدك ناسياً فأذكرك، كما قال تعالى: { أن تَضِل إحداهما }.
‎السادس: ووجدك طالباً القبلة فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى الطلب، لأن الضال طالب.
‎السابع: ووجدك متحيراً في بيان من نزل عليك فهداك إليه، فيكون الضلال بمعنى التحير، لأن الضال متحير.
‎الثامن: ووجدك ضائعاً في قومك فهداك إليه، ويكون الضلال بمعنى الضياع، لأن الضال ضائع.
‎التاسع: ووجدك محباً للهداية فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى المحبة، ومنه قوله تعالى: { قالوا تاللَّه إنك لفي ضلالك القديم } أي في محبتك
Beliau menjelaskan ada sembilan makna ayat ini, yaitu dalam konteks ketidakmengertian akan al-haq (kebenaran), masalah kenabian, kaum jahiliyah, hijrah, lupa, mencari qiblat, ayat yang diturunkan, kesempitan/kehilangan urusan umat, bahkan ada pula yang memaknainya dengan menyenangi petunjuk, maka diberilah petunjuk.
Dari penjelasan di atas tidak ada ulama yang mengatakan Nabi Muhammad itu lahir dalam keadaan sesat. Tidak ada pula ulama yang mengatakan beliau sesat sebelum diangkat menjadi Nabi. Justru sekian banyak riwayat mengatakan sejak kecil beliau dijaga Allah untuk tidak pernah menyembah berhala.
Pertanyaannya: kalau kaum jahiliyah di sekitar beliau saat itu menyembah berhala, lantas apa yang dilakukan oleh beliau sebelum diangkat sebagai Rasul?
Imam Alusi dalam kitab Tafsir Ruh al-Ma’ani menjelaskan bahwa sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad bin Abdullah mengikuti agama yang hanif, yang berasal dari ajaran Nabi Ibrahim.
Begitu pula Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari saat menjelaskan riwayat “Aku diutus dengan agama yang hanif dan samhah” beloau menulis:
‎قال رسول الله صلي الله عليه و سلم : بعثت بالحنيفية السمحة, الحنيفية :أي ملة ابراهيمية, والحنيف المائل عن الباطل وسمي ابراهيم عليه السلام حنيفا لأنه مال عن عبادة الأوثان. السمحة: السهلة والملة السمحة هي الملة التي لا حرج فيها ولا تضييق علي الناس وهي الملة الاسلام ,جمع بين حنيفية و كونها سمحة فهي حنيفية في التوحيد سهلة في العمل. انتهي الوجيز في قواعد الفقه الكلية د. طلعت عبد الغفار حجاج جامعة الأزهر كلية الدراسات الاسلامية والعربية للبنات
“al-Hanifiyah yaitu Millah Ibrahim, dan Hanif (lurus) yang menyimpang dari kebatilan dan dinamakan Ibrahim As sebagai seorang yang Hanif kerana beliau tidak menyembah berhala. As-samhah, yaitu mudah dan jalan (agama) yang mudah. Maknanya jalan (agama) yang tiada kepayahan padanya dan tiada kesempitan pula kepada manusia untuk mengamalkannya dan itu adalah millah (agama) Islam, dihimpunkan di antara hanifiyah dan samhah karena lurus pada Tauhid dan mudah dalam hal pengamalan.”
Jadi jelaslah bahwa Muhammad bin Abdullah itu bukan orang sesat dan tidak mengikuti kepercayaan kaum jahiliyah saat beliau belum menjadi Nabi.
Lantas apakah Nabi Muhammad itu pernah melakukan dosa saat sebelum diangkat menjadi Nabi?
Mari kita simak penjelasan kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:
‎وَالأَْنْبِيَاءُ مَحْفُوظُونَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ مِنَ الذُّنُوبِ الظَّاهِرَةِ كَالْكَذِبِ وَنَحْوِهِ، وَالذُّنُوبِ الْبَاطِنَةِ، كَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Setelah diangkat menjadi Nabi, Para Nabi itu terjaga dari dosa yang lahiriah seperti berbohong dan sejenisnya, maupun dosa batiniah seperti dengki, sombong, riya’, dan lainnya.
‎أَمَّا عِصْمَتُهُمْ قَبْل النُّبُوَّةِ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَمَنَعَهَا قَوْمٌ، وَجَوَّزَهَا آخَرُونَ، وَالصَّحِيحُ تَنْزِيهُهُمْ مِنْ كُل عَيْبٍ؛
“Adapun kema’shuman sebelum kenabian maka terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama; ada sebagian yang menolaknya dan ada pula yang membolehkannya. Yang benar itu adalah mereka (maksudnya para Nabi sebelum menjadi Nabi) itu dibersihkan dari semua aib/cela.”
Itulah sebabnya Nabi Muhammad sejak mudanya sudah dikenal dengan sebutan al-Amin (orang yang terpercaya) karena track recordnya sebagai pribadi yang jujur dan mulia dikenal luas saat itu.
Karena memahami QS ad-Duha hanya lewat arti harfiah terjemahan saja, tanpa menyempatkan diri membuka kitab tafsir dan literatur lainnya, sang Ustaz semakin parah membangun narasinya dengan menyerang perayaan maulid, dengan gaya sinisnya. Seolah dia memakai logika: kalau saat lahir Muhammad itu dalam keadaan sesat, mengapa kelahirannya itu hendak diperingati? Apanya yang mau diperingati?
Narasi yang coba dibangunnya menjadi berantakan karena asumsinya sudah keliru. Ayat yang dia kutip ternyata menurut para ulama tafsir tidak mengatakan Muhammad itu sesat. Kalau Muhammad itu sebelumnya sesat, nanti ada yang bertanya orang sesat kok jadi Nabi? Piye to jal? Mikirrrr.
Dulu ada yang mengatakan bahwa Nabi gagal mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin semasa hidupnya, hanya karena ingin membangun narasi mendukung khilafah. Sekarang sejak lahir Nabi dibilang sesat, hanya karena hendak menyerang peringatan maulid.
Duh, Gusti.....
Kenapa justru para Ustaz mencela Nabi-Mu....
Mohon Engkau mengampuni kami semua.
Nastaghfirullah wa natubu ilayk.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand
dan Dosen Senior Monash Law School
Read more